Mukjizat Para Nabi dan Karamah Para Wali

(Buletin Dakwah Jumat AS-SUNNAH Ed.60)

Al-Mu’jizah diambil dari kata al-‘ajzu yang bermakna ketidakmampuan. Di dalam kamus disebutkan, “Mu’jizat Nabi shallallahu alaih wa sallam adalah apa yang membuat para penentang beliau tidak mampu menjawab tantangan.”

Adapun menurut istilah, al-mu’jizah adalah perkara luar biasa yang terjadi pada diri para nabi sebagai bukti yang menunjukkan kebenaran mereka, disertai ketidakmampuan kaumnya untuk menandingi mukjizat tersebut.

Dengan definisi ini, perbuatan atau peristiwa biasa yang muncul dari para nabi, atau perkara luar biasa yang terjadi pada diri para wali, tidak disebut mukjizat. Demikian pula perkara-perkara tidak wajar yang muncul pada diri para pendusta yang mengaku nabi, atau para tukang sihir dan dukun. Sebab perkara-perkara tersebut bisa dilawan dengan yang semisalnya, karena ia adalah salah satu bentuk sihir.

 

Beberapa Contoh Mukjizat Para Nabi

Nabi Shalih alaih salam memiliki mukjizat berupa unta yang keluar dari sebuah batu besar. Unta ini memiliki sifat-sifat seperti yang diinginkan oleh kaum Nabi Shalih. (Tafsir Ibnu Katsir 3/436) Allah Taala berfirman tentang hal itu, “Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Shaleh. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagi kalian selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepada kalian dari Tuhan kalian. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagi kalian, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kalian mengganggunya dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kalian akan ditimpa siksaan yang pedih.” (QS. al-A’raaf: 73)

Nabi Ibrahim alaih salam memiliki mukjizat berupa keadaan tidak terbakar oleh api yang dinyalakan kaumnya untuk menyiksa dan membinasakan beliau. Allah menjadikan api itu dingin untuknya. Allah Taala berfirman, “Mereka berkata: ‘Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kalian, jika kalian benar-benar hendak bertindak’. Kami berfirman: ‘Hai api, menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim’. Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi.” (QS. al-Anbiyaa: 68-70)

Nabi Musa alaih salam memiliki mukjizat berupa tongkat yang dapat berubah menjadi seekor ular besar ketika dilemparkan ke tanah. Allah Taala berfirman, “Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa?”  Musa berkata: “Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya”. Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!” Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.” (QS. Thahaa: 17-21)

Mukjizat Nabi Musa lainnya adalah tangan beliau menjadi putih cemerlang seperti rembulan setelah dikeluarkan dari saku bajunya. Allah Taala berfirman, “Dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacat, sebagai mu’jizat yang lain (pula).” (QS. Thaahaa: 22)

Nabi Isa alaih salam memiliki mukjizat dapat membuat burung hidup dari tanah liat dengan izin Allah, menyembuhkan orang buta dan orang berpenyakit lepra dengan izin Allah, memanggil orang-orang yang berada di dalam kubur dan semua menjawabnya dengan izin Allah. Allah Taala berfirman, “Dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku.” (QS. al-Maaidah: 110)

Nabi Muhammad shallallahu alaih wa sallam memiliki mukjizat berupa al-Quran al-‘Azhim. Ini adalah mukjizat para rasul yang paling besar. Allah Taala berfirman, “Dan jika kalian (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolong kalian selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. al-Baqarah: 23) “Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (QS. al-Israa: 88)

Mukjizat Nabi Muhammad shallallahu alaih wa sallam lainnya adalah terbelahnya bulan ketika orang-orang Mekah meminta satu tanda yang menunjukkan bahwa beliau adalah seorang nabi. Allah Taala berfirman, “Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mu’jizat), mereka berpaling dan berkata: “(Ini adalah) sihir yang terus menerus”. (QS. al-Qomar: 1-2)

Demikianlah beberapa contoh mukjizat para rasul. Sungguh, mukjizat-mukjizat mereka itu banyak sekali. Lebih khusus mukjizat Nabi kita Muhammad shallallahu alaih wa sallam. Allah menguatkan beliau dengan banyak tanda dan bukti yang tidak terkumpul pada seorang nabi pun sebelum beliau. Apa yang disebutkan di atas hanya sekadar contoh.

 

Karamah Para Wali

Karamah adalah perkara luar biasa yang tidak disertai pengakuan kenabian dan bukanlah pendahuluan kenabian. Ia terjadi pada seorang hamba yang tampak keshalihannya, benar keyakinannya dan suka berbuat kebajikan. Dengan demikian, suatu perkara biasa yang terjadi, mukjizat para Nabi, dan kejadian-kejadian aneh pada tukang sihir dan dukun tidaklah disebut karamah.

 

Contoh-contoh Karamah

Karamah para wali banyak sekali contohnya. Seperti apa yang pernah terjadi pada sebagian orang shalih dari umat-umat terdahulu dan umat Nabi Muhammad shallallahu alaih wa salam. Di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Peristiwa yang Allah beritakan tentang Maryam alaihas salam. Allah Taala berfirman, “Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.” (QS. Ali Imraan: 37)
  • Peristiwa para penghuni gua yang tertidur selama ratusan tahun. Allah membawakan kisahnya di dalam al-Quran surat al-Kahfi.
  • Peristiwa yang terjadi pada Usaid bin Hudhair radhiyallahu’anhu ketika pada suatu malam beliau membaca surat al-Kahfi, turunlah sesuatu dari langit seperti awan yang membawa sinar. Ketika ditanyakan kepada Nabi shallallahu ‘alaih wa sallam, ternyata itu adalah para malaikat yang turun karena bacaan Quran beliau.
  • Khubaib bin ‘Adi radhiyallahu‘anhu. Ketika beliau ditawan orang-orang musyrik Mekah, Allah memuliakan beliau. Beliau diberi anggur yang kemudian dimakannya, padahal di Mekah tidak ada satu pun anggur ketika itu.
  • Peristiwa yang terjadi pada Abu Muslim al-Khaulani rahimahullaah ketika beliau ditawan oleh Abu al-Aswad al-Ansi, seorang yang mengaku sebagai nabi. Abu al-Aswad al-‘Ansi mengatakan kepadanya, “Apakah Anda bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?” Beliau menjawab, “Saya tidak mendengar.” Kemudian ia berkata lagi, “Apakah Anda bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah?” Beliau menjawab, “Ya.” Maka beliaupun dilempar ke dalam api. Lalu beliau didapati sedang shalat di dalam kobaran api tersebut.

Masih banyak lagi kisah-kisah lain yang sejenis di dalam kitab-kitab siroh dan tarikh.

 

Perbedaan Antara Mukjizat dan Karamah

Dengan definisi yang telah disebutkan tentang mukjizat dan karamah, dapat disimpulkan bahwa mukjizat terjadi disertai pengakuan kenabian, sedangkan karamah tidak. Dan karamah terjadi pada diri seseorang, karena mengikuti Nabi dan istiqomah di atas syariatnya. Secara ringkas, mukjizat adalah untuk para nabi, sedangkan karamah untuk para wali. Di sini perlu dijelaskan bahwa istilah mukjizat untuk perkara luar biasa yang terjadi pada para nabi, dan istilah karamah untuk perkara luar biasa yang terjadi pada para wali merupakan istilah yang ditetapkan oleh para ulama. Ia tidak disebutkan secara eksplisit di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Namun makna dua istilah ini kembali kepada kebenaran yang ada di dalam Al-Quran dan As-Sunnah.

 

Hukum Beriman Dengan Mukjizat dan Karamah

Beriman dengan mukjizat para nabi dan karamah para wali adalah salah satu pokok keimanan yang ditunjukkan di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Kenyataan yang ada pun mendukung kebenaran ini. Maka seorang muslim wajib meyakini bahwa perkara tersebut memang benar adanya. Mendustakan dan mengingkari adanya mukjizat dan karamah adalah penolakan terhadap nas-nas Al-Quran dan As-Sunnah, pengingkaran terhadap kenyataan, dan penyimpangan yang sangat jauh dari apa yang diyakini oleh para ulama kaum muslimin.

 

(Disadur dari Ushul Iman Fii Dhau al-Kitab wa as-Sunnah)

Silahkan Download File Pdf: Download

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *