Home » Artikel Islam, Muamalah

Hukum Multi Level Marketing (MLM)

06 January 2009 M | 08 Muharram 1430 H 36,629 views 30 Tanggapan Email 

INFOKAN HALAMAN INI:





EMAIL

(Ust. Dzulqarnain bin Muhammad Sanusi)

Pengantar
Termasuk masalah yang banyak dipertanyakan hukumnya oleh kaum muslimin yang cinta untuk mengetahui kebenaran dan peduli dalam membedakan halal dan haram adalah masalah Multi Level Marketing (MLM). Transaksi dengan sistem MLM ini telah merambah di tengah manusia dan banyak mewarnai suasana pasar masyarakat. Maka sebagai seorang pebisnis muslim, wajib untuk mengetahui hukum transaksi dengan sistem MLM ini sebelum bergelut didalamnya. Sebagaimana prinsip umum dari ucapan ‘Umar radhiyallahu’anhu:

“Jangan ada yang bertransaksi di pasar kami kecuali orang yang telah paham agama.” (Dikeluarkan oleh At-Tirmidzy dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albany)

Maksud dari ucapan ‘Umar adalah bahwa seorang pedagang muslim hendaknya mengetahui hukum-hukum syariat tentang aturan berdagang atau transaksi dan mengetahui bentuk-bentuk jual-beli yang terlarang dalam agama. Dangkalnya pengetahuan tentang hal ini akan menyebabkan seseorang jatuh dalam kesalahan dan dosa. Sebagaimana telah kita saksikan tersebarnya praktek riba, memakan harta manusia dengan cara yang batil, merusak harga pasaran dan sebagainya dari bentuk-bentuk kerusakan yang merugikan masyarakat, bahkan merugikan negara.
Maka pada tulisan ini, kami akan menampilkan fatwa ulama terkemuka di masa ini. Mereka yang telah di kenal dengan keilmuan, ketakwaan dan semangat dalam membimbing dan memperbaiki umat.

Walaupun fatwa yang kami tampilkan hanya fatwa dari Lajnah Da’imah , Saudi Arabia , mengingat kedudukan mereka dalam bidang fatwa dan riset ilmiah. Namun kami juga mengetahui bahwa telah ada fatwa-fatwa lain yang sama dengan fatwa Lajnah Da’imah tersebut, seperti fatwa Majma’ Al-Fiqh Al-Islamy (Perkumpulan Fiqh Islamy) di Sudan yang menjelaskan tentang hukum Perusahaan Biznas (Salah satu nama perusahaan MLM).

Fatwa Majma’ Al-Fiqh Al-Islamy Sudan ini dikeluarkan pada tanggal 17 Rabi’ul Akhir 1424 H, bertepatan dengan tanggal 17 Juni 2003 M pada majelis no. 3/24. kesimpulan dari fatwa mereka dalam dua poin-sebagaimana yang disampaikan oleh Amin ‘Am Majma Al-Fiqh Al-Islamy Sudan, Prof. DR. Ahmad Khalid Bakar-sebagai berikut:

“Satu, sesungguhnya bergabung dengan perusahaan Biznas dan yang semisal dengannya dari perusahaan-perusaha an pemasaran berjejaring (MLM) tidak boleh secara syar’i karena hal tersebut adalah qimar.[1]

Dua, Sistem perusahaan Biznas dan yang semisal dengannya dari perusahaan-perusaha an berjejaring (MLM) tidak ada hubungannya dengan akad samsarah[2]-sebagaimana yang disangka perusahaan (Biznas) itu dan sebagimana mereka mengesankan itu kepada ahlul ilmi yang memberi fatwa  boleh dengan alasan itu sebagai samsarah di sela-sela pertanyaan yang mereka ajukan kepada ahlul ilmi tersebut dan telah digambarkan kepada mereka perkara yang tidak sebenarnya-.”

Fatwa Majma’ Al-Fiqh Al-Islamy Sudan di atas dan pembahasan bersamanya telah dibukukan dan diberi catatan tambahan oleh seorang penuntut ilmu di Yordan, yaitu syaikh ‘Ali bin Hasan Al-Halaby.

Sepanjang yang  kami ketahui, belum ada dari para ulama ayang membolehkan sistem Multi Level Marketing ini. Memang ada sebagian dari tulisan orang-orang yang memberi kemungkinan bolehnya hal tersebut, tapi datangnya hanya dari sebagian para ulama yang dikabarkan kepada mereka sistem MLM dengan penggambaran yang tidak benar-sebagaimana dalam Fatwa Majma’ Al-Fiqh Al-Islamy-atau sebagian orang yang sebenarnya tidak pantas berbicara dalam masalah seperti ini.

Akhirulkalam, semoga apa yang tertuang dalam tulisan ini ada manfaatnya untuk seluruh pembaca dan membawa kebaikan untuk kita. Wallahula’lam

Fatwa Lajnah Da’imah pada tanggal 14/3/1425 dengan nomor (22935)

Telah sampai pertanyaan-pertanya an yang sangat banyak kepada Al-Lajnah Ad-Da’imah Li Al-Buhuts Al-Ilmiyah wa Al-Ifta[3] tentang aktifitas perusahaan-perusaha an pemasaran berpiramida atau berjejaring (MLM)[4] seperti Biznas dan hibah Al-Jazirah. Kesimpulan aktifitas mereka adalah meyakinkan seseorang untuk membeli sebuah barang atau produk agar dia (juga) mampu meyakinkan orang-orang lain untuk membeli produk tersebut (dan) agar orang-orang itu juga meyakinkan yang lainnya untuk membeli, demikian seterusnya. Setiap kali bertambah tingkatan anggota dibawahnya (downline), maka orang yang pertama akan mendapatkan komisi yang besar yang mencapai ribuan real. Setiap anggota yang dapat meyakinkan orang-orang setelahnya (downline-nya) untuk bergabung, akan mendapatkan komisi-komisi yang sangat besar yang mungkin dia dapatkan sepanjang berhasil merekrut anggota-anggota baru setelahnya ke dalam daftar para anggota. Inilah yang dinamakan dengan pemasaran berpiramida atau berjejaring (MLM).

JAWAB:

Alhamdullilah,

Lajnah menjawab pertanyaan diatas sebagai berikut:

Sesungguhnya transaksi sejenis ini adalah haram. Hal tersebut karena tujuan dari transaksi itu adalah komisi dan bukan produk. Terkadang komisi dapat mencapai puluhan ribu sedangkan harga produk tidaklah melebihi sekian ratus. Seorang yang berakal ketika dihadapkan di antara dua pilihan, niscaya ia akan memilih komisi. Karena itu, sandaran perusahaan-perusaha an ini dalam memasarkan dan mempromosikan produk-produk mereka adalah menampakkan jumlah komisi yang besar yang mungkin didapatkan oleh anggota dan mengiming-imingi mereka dengan keuntungan yang melampaui batas sebagai imbalan dari modal yang kecil yaitu harga produk. Maka produk yang dipasarkan oleh perusahaan-perusaha an ini hanya sekedar label dan pengantar untuk mendapatkan komisi dan keuntungan.

Tatkala ini adalah hakikat dari transaksi di atas, maka dia adalah haram karena beberapa alasan:

Pertama, transaksi tersebut mengandung riba dengan dua macam jenisnya; riba fadhl[5] dan riba nasi’ah[6]. Anggota membayar sejumlah kecil dari hartanya untuk mendapatkan jumlah yang lebih besar darinya. Maka ia adalah barter uang dengan bentuk tafadhul (ada selisih nilai) dan ta’khir (tidak cash). Dan ini adalah riba yang diharamkan menurut nash dan kesepakatan[7]. Produk yang dijual oleh perusahaan kepada konsumen tiada lain hanya sebagai kedok untuk barter uang tersebut dan bukan menjadi tujuan anggota (untuk mendapatkan keuntungan dari pemasarannya) , sehingga (keberadaan produk) tidak berpengaruh dalam hukum (transaksi ini).

Kedua, ia termasuk gharar[8] yang diharamkan menurut syari’at, karena anggota tidak mengetahui apakah dia akan berhasil mendapatkan jumlah anggota yang cukup atau tidak?. Dan bagaimanapun pemasaran berjejaring atau piramida itu berlanjut, dan pasti akan mencapai batas akhir yang akan berhenti padanya. Sedangkan anggota tidak tahu ketika bergabung didalam piramida, apakah dia berada di tingkatan teratas sehingga ia beruntung atau berada di tingkatan bawah sehingga ia merugi? Dan kenyataannya, kebanyakan anggota piramida merugi kecuali sangat sedikit di tingkatan atas. Kalau begitu yang mendominasi adalah kerugian. Dan ini adalah hakikat gharar, yaitu ketidakjelasan antara dua perkara, yang paling mendominasi antara keduanya adalah yang dikhawatirkan. Dan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang dari gharar sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya.

Tiga, apa yang terkandung dalam transaksi ini berupa memakan harta manusia dengan kebatilan, dimana tidak ada yang mengambil keuntungan dari akad (transaksi) ini selain perusahaan dan para anggota yang ditentukan oleh perusahaan dengan tujuan menipu anggota lainnya. Dan hal inilah yang datang nash pengharamannya dengan firman (Allah) Ta’ala,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil” [An-Nisa’:29]

Empat, apa yang terkandung dalam transaksi ini berupa penipuan, pengkaburan dan penyamaran terhadap manusia, dari sisi penampakan produk seakan-akan itulah tujuan dalam transaksi, padahal kenyataanya adalah menyelisihi itu. Dan dari sisi, mereka mengiming-imingi komisi besar yang seringnya tidak terwujud. Dan ini terhitung dari penipuan yang diharamkan. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

“Siapa yang menipu maka ia bukan dari saya” [Dikeluarkan Muslim dalam shahihnya]

Dan beliau juga bersabda,

“Dua orang yang bertransaksi jual beli berhak menentukan pilihannya (khiyar) selama belum berpisah. Jika keduanya saling jujur dan transparan, niscaya akan diberkati transaksinya. Dan jika keduanya saling dusta dan tertutup, niscaya akan dicabut keberkahan transaksiny.”[Muttafaqun’Alaihi]

Adapun pendapat bahwa transaksi ini tergolong samsarah[9], maka itu tidak benar. Karena samsarah adalah transaksi (dimana) pihak pertama mendapatkan imbalan atas usahanya mempertemukan barang (dengan pembelinya). Adapun pemasaran berjejaring (MLM), anggotanya-lah yang mengeluarkan biaya untuk memasarkan produk tersebut. Sebagaimana maksud hakikat dari samsarah adalah memasarkan barang, berbeda dengan pemasaran berjejaring (MLM), maksud sebenarnya adalah pemasaran komisi dan bukan (pemasaran) produk. Karena itu orang yang bergabung (dalam MLM) memasarkan kepada orang yang akan memasrkan dan seterusnya[10]. Berbeda dengan samsarah, (dimana) pihak perantara benar-benar memasarkan kepada calon pembeli barang. Perbedaan diantara dua transaksi adalah jelas.

Adapun pendapat bahwa komisi-komisi tersebut masuk dalam kategori hibah (pemberian), maka ini tidak benar, andaikata (pendapat itu) diterima, maka tidak semua bentuk hibah itu boleh menurut syari’at. (Sebagaimana) hibah yang terkait dengan suatu pinjaman adalah riba. Karena itu, Abdullah bin Salam berkata kepada Abu Burdah radhiyallahu’anhuma,

“Sesungguhnya engkau berada di suatu tempat yang riba tersebar padanya. Maka jika engkau memiliki hak pada seseorang kemudian dia menghadiahkan kepadamu sepikul jerami, sepikul gandum atau sepikul tumbuhan maka ia adalah riba.”[Dikeluarkan oleh Al-Bukhary dalam Ash-Shahih]

Dan (hukum) hibah dilihat dari sebab terwujudnya hibah tersebut. Karena itu beliau ‘alaihish shalatu wa sallam bersabda kepada pekerjanya yang datang lalu berkata, “Ini untuk kalian, dan ini dihadiahkan kepada saya.” Beliau ‘alaihish shalatu wa sallam bersabda,

“Tidakkah sepantasnya engkau duduk di rumah ayahmu atau ibumu, lalu engkau menunggu apakah dihadiahkan kepadamu atau tidak?” [Muttafaqun’Alaih]

Dan komisi-komisi ini hanyalah diperoleh karena bergabung dalam sistem pemasaran berjejaring. Maka apapun namanya, baik itu hadiah, hibah atau selainnya, maka hal tersebut sama sekali tidak mengubah hakikat dan hukumnya.

Dan (juga) hal yang patut disebut disana ada beberapa perusahaan yang muncul di pasar bursa dengan sistem pemasaran berjejaring atau berpiramida (MLM) dalam transaksi mereka, seperti Smart Way, Gold Quest dan Seven Diamond. Dan hukumnya sama dengan perusahaan-perusaha an yang telah berlalu penyebutannya. Walaupun sebagiannya berbeda dengan yang lainnya pada produk-produk yang mereka perdagangkan.

Wabillahi taufiq wa shalallahu ‘ala Nabiyina Muhammad wa aalihi wa shohbihi.

[Fatwa diatas ditanda-tangani oleh Syaikh ‘Abdul ‘Azis Alu Asy-Syaikh (ketua), Syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh Abdullah Al-Ghudayyan, Syaikh Abdullah Ar-Rukban, Syaikh Ahmad Sair Al-Mubaraky dan Syaikh Abdullah Al-Mutlaq]

Dikutip dari majalah An-Nashihah volume 14, hal. 12-14

[1] Qimar adalah seseorang mengeluarkan biaya dalam sebuah transaksi yang ada kemungkinan dia beruntung dan ada kemungkinan dua merugi (Penerjemah)

[2] Yaitu jasa sebagai perantara atau makelar

[3] Yaitu komisi khusus bidang riset ilmah dan fatwa. Beranggotakan ulama-ulama terkemuka di Saudi Arabia bahkan menjadi rujukan kaum muslimin di berbagai belahan bumi. (Penerjemah)

[4] Kadang disebut dengan istilah Pyramid Scheme, network marketing atau multi level marketing (MLM). (Penerjemah)

[5] Riba fadhl adalah penambahan pada salah satu dari dua barang ribawy (yaitu barang yang berlaku pada hukum riba) yang sejenis dengan transaksi yang kontan (Penerjemah)

[6] Riba nasi’ah adalah transaksi antara dua jenis barang ribawy yang sama sebab ribanya dengan tidak secara kontan. (Penerjemah)

[7] Maksudnya menurut nash Al-Qur’an dan As-Sunnah serta kesepakatan para ulama. (Penerjemah)

[8] Gharar adalah apa yang belum diketahui akan diperoleh atau tidak, dari sisi hakikat dan kadarnya. (Penerjemah)

[9] Maksudnya jasa sebagai perantara atau makelar. (Penerjemah)

[10] Pengguna barang tersebut adalah anggota MLM, hal ini dikenal dengan istilah user 100%. (editor)

Sumber: Milis Salafi-Indonesia@yahoogroups.com

Nilai artikel ini:

30 Tanggapan »

  • hadi said:

    kalau MLM ini dinyatakan Haram. mengapa begitu banyak MLM di Indonesia yang beroperasi. bagaimana peran Pemerinah/MUI dalam hal ini ??

    terima kasih.

    wass,

    hadi

  • abu ahmad said:

    Adapun keharaman menjalankan bisnis MLM ini Insya Allah ana sudah faham. Tapi bagaimana kalau bergabung bisnis ini bukan untuk menjalankan bisnisnya melainkan hanya karena produknya cocok atau ‘NYATA KHASIATNYA’ kemudian bergabung agar mendapatkan harga produk yang murah ? Apakah yang demikian tetap haram ?

  • ummu aiman said:

    afwan,ana mau tanya.kalau keagenan pulsa DBS,mereka tidak mau disebut termasuk MLM, apakah itu berarti boleh?

  • iman said:

    Apakah membeli produk MLM termasuk bekerjasama dengan mereka?

  • erwees said:

    sy sejak awal kurang sreg ikut MLM. terutama lewat internet betapa banyaknya bisnis ini ditawarkan. dengan segala bentuk dan iming2 nya. memang dengan ilustrasi yang menawan dan dengan bukti scanning rekening bank, akan menggiurkan banyak orang. memang kalau dapat menggaet sekian banyak orang sesuai ilustrasi nya, akan memndapat sekian M. dan yang pasti lebih untung adalah penyelenggaranya. yang akan mendapat sekian lipat M dari jumlah membernya. padahal modal dia cuma starter kit dan kemampuan merayu orang.jadi marilah kita berfikir jernih dan tak sekedar mengejar keuntungan dengan mengorbankan orang lain. apalagi fatwanya sudah cetho welo-welo.

  • abu Fauzan said:

    seorang muslim akan wara’ dalam memilih bisnis…
    Bisnis dengan sistem yang jelas insya allah akan mendapatkan berkah…

  • Yusuf said:

    Assalamu’alaikum Warohmatullah…………………..

    Ana mau tanya? Bagaimana hukumnya dalam islam ikut bisnis Flexter dan DBS? Karena kedua bisnis ini lagi marak di indonesia.
    Ana tuggu jawabannya………………………………………

  • risa said:

    assalm.. af1 saya ingin cerita, akhir2ne beberapa kader di kampus saya, sedang dimarakkan dengan adanya MLM, dan bahkan hanya karna MLM tersebut mereka meninggalkan Syuro’ dan amanah2 di lembaga kami. saya bisa memaklumi ketika seorang kader ingin mengembangkan usahanya. saya juga mengerti betapa butuhnya uang di jaman seperti ini tetapi mereka seolah – olah hanya khusyu’ dengan prospekkannya. bagaimana menurut pendapat anda?

  • abu shafiyyah abdullah said:

    Untuk saat ini saya belum paham 100%.InsyaAllah lain waktu…Saya bisa memahami betapa butuhnya kaum muslimin terhadap fulus.mereka juga belum tahu…yah,pelan2…

  • abu shafiyyah abdullah said:

    yah sabar, temanku menyebutnya “kejahatan berantai” bagi bisnis mlm dan yang memasarkan “software pengumpul uang”.Saya diam aja,ga berani kasih komentar,saya akan pelajari dulu masalahnya…

  • zaenal aref said:

    memang lebih mudah berkomentar dari pada mermuskan apakh mlm ittu halal ataukah haram…. {dlam hal ini MUI yang berkwajiban}, krna mnrut sepmngetahuan saya  ada beberap sisi dlm MLM yang mnrut islam itu sngat dilarang…
    contohlah tentang larangan menyakiti orang lain dlam bentuk apapun
    ( jk melihat dalil “la zdharaaraa walla zdiraa”…….)
    misal kita mngajak orng lain untuk melakukan OPP  (open plan presentation)…
    tetapi teman yang kita ajak tersbt jengkel krna tidak tertarik pada bisnis tersbt, malah dlam hatinya sambil ngumpat-ngumpat……………(masyaAllah),
    NAHdari kejadian tersbt, kt telah menykiti hati orang itu, dan, itu sudah bertentngan dangan prinsip “la zdaraaraa walla zdiraa”,, coba byangkan jika dalam mnuju sukses kta menyakiti 1000 orang, tinggal kalikan sja berpa lama kita “nyangkut” di neraka jika sekali menyakiti orang lain saja kita akan tinggal dineraka dalam waktu 50 tahun dan 1 tahun dineraka saja sma dengan 500 tahun di dunia,….?????
    wallullohuallam….
    terimkasih

  • kiai said:

    kalau hukumnya haram, maka haram tetap haram. Dan yang membeli produknya seolah olah mencuci tangan dengan air longkang. Hmm…

  • Nashori Ws said:

    Mendingan milih yang jelas-jelas di halalkan saja. Kalau masih ragu dengan halal haramnya MLM, lebih baik berdagang atau menjadi kuli kasar…. fulus banyak, siapa yang tak senang ?????? Tapi kalo fulus itu cuma ada dalam angan2 saja..?????
     

  • Raden Bentar said:

    Ada lagi bisnis yg mengaku bukan MLM tapi member get member tapi ya itu – itu juga namanya TVI Express apakah ada yang merasa kecewa di perlakukan oleh oknum oknum yang mengiming dan akan membantu kepada membernya apalagi member yg mempunyai loyalitas tinggi mengembangkan bisnis ini. namun dalam perjalanananya merasa risi juga akan pihak pihak lain yg dirugikan kalau ada yg untung pasti ada yang rugi karena ketika dunia ini kiamat pasti ada pihak yg merugi yg tidak sempat menikmati hasilnya dalam jumlah yg begitu banyak.Tks

  • Nur Rohmat said:

    saya salah satu orang yang telah mengalami merasa tertipu dengan MLM, karena apa yang dipromosikan oleh para leader tak seperti kenyataan, meraka hanya mengejar komisi tanpa memperdulikan downlinenya. tak ada bedanya dengan DBS, dia tidak mengatakan itu MLM, tapi keseharian yang dia lakukan adalah membakar semangat agar pada downline mendapatkan member yang banyak, sehingga fulus bisa mengalir ke tangan *** bagaikan banjir, soal uang itu mengalir dari mana dan nyangkut dimana tak peduli, yang penting tuan *** sekarang menjadi kaya raya. soal berjuta member yang menjerit dan dijadikan mesin pencetak uangnya. bodoh amat. Yang Penting sekarang TUAN *** menjadi orang kaya BOS DBS. Soal haram dan halal, dijaman ini kang bisa diatur, Label HALAL bisa dibeli. dan anehnya tidak ada orang atau instansi yang menjual label HARAM.
     
     
     
     
     

  • aldialadianrini said:

    alhamdulillah,
    semakin mantap menolak ajakan teman gabung di bisnis MLM. :)
    sukron.

  • zaenal arifin said:

    Assalamualaikum wr.wb

    Saya termasuk salah  satu orang yang pernah terjun ke bisnis MLM , sudah beberapa jenis bisnis MLM saya ikuti…dan dari analisa saya …semua bisnis tersebut saling mengunggulkan produck nya masing-masing.Sadar atau tidak dalam bisnis sejenis ini sudah mendokrin/mencuci otak kita , dengan kita rajin hadir di acara opp,bob atau istilah yg lainnya.Memang ada sisi positif,yaitu membangunkan semangat dalam diri kita untuk selalu berusaha untuk mencapai sebuah mimpi.Namun apakah sistem dalam MLM tersebut sudah benar menurut hukum islam .Yang sangant disayangkan sekarang ini banyak usaha/MLM yang didasarkan atas syariah.Bagi orang awam yg belum mengerti syariah mungkin akan beranggapan bisnis tersebut adalah syariah atas dasar informasi dari leader-leader yang menerangkan saat dalam prospek.Dan yg lebih sedih lagi di cantumkan juga nama MUI dan pasal-pasalnya.Sungguh negara kita ini sudah banyak di permainkan oleh orang-orang pintar tapi keblinger.Dan yg jadi korban adalah orang yang tidak tau menau akan hal itu.
    Jadi lebih baik kita menjalankan bisnis yang jelas-jelas saja,yang tidak jelas tinggalkan.
    Kita adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan di mintai pertagung jawaban diakhirat kelak.Inagt..ingat..ingat…

    Wassalamualaikum wr,wb

  • Saputra Mudi said:

    Saya juga pernah terlibat dalam bisnis MLM Tianshi, tapi sekarang saya tidak mau melanjutkan lagi karena saya pikir-pikir sangat jauh kemungkinan untuk saya berhasil. Sekarang saya lebih fokus pada belajar dan mengajar saja.

  • ibrahim said:

    Insya Allah paling aman n barokah adl tijaroh ikut cara sunnah Nabi saw aja dehh….

  • Sandriaf Alga said:

    Assalamu’alaykum.
     
    afwan, bolehkan thread ini ana share di FB? masih banyak teman-teman ana yg ikut MLM dan belum mengetahui hukumnya.
     
    Terima kasih.
     
    Wassalamu’alaykum

  • Salam said:

    Amati, analis, dan pelajari.
    setelah itu lakukan apa yang  sudah kamu pelajari.
    MUDAHKAN!!!!!
    ISLAM ITU INDAH dan MUDAH.

  • Yayan Hariyanto said:

    Bagai mna dengn MLM yng mengatasnamakan syari’ah?? productnya halal, herbal, dan Thibbunnabawi??

    Admin: Siapapun bisa saja mengklaim atas nama syariah, orang gilapun bisa, tapi yang jadi pertanyaan: bagaimana hakikat kenyataannya jika dinilai dari aturan syariat yang sebenarnya? Yang bermasalah secara syar’i adalah sistem muamalahnya yang melanggar syariat sebagaimana penjelasan di atas. Itu substansinya. Sekalipun produk yang dijual adalah halal bukan berarti muamalah yang haram menjadi halal. Wallahu a’lam.

  • wahyu said:

    Segala puji dan syukur atas perlindungan Allah yang telah menjauhkanku dari kemaksiatan, dosa dan syubhalt…
    Padahal ada jalan rezeki yang halal yang jelas hukumnya, untuk apa nyari yang ribet. Apabila diri tidak diberikan jalan rezeki yang halal, diri harus rumasa. Mungkin karena dosa-dosa diri, kurangnya taat dan tidak mengerti hal yang Baik.
    Cukup bagi diri ini Allah tempat sebagai berserah diri dan berharap, benar-benar kesenangan dunia telah melupakan diri.
    Semoga diberi petunjuk sekalian umat Muhammad SAW,,,
    Salam sejahtera, semoga artikel ini bermanfaat.

  • anto said:

    Bagaimana hukumnya bisnis investasi?
    yaitu kita menginvestasikan uang kita dengan jumlah tertentu dan akan mendapat keuntungan beberapa persen per hari. dan bila kita bisa mengajak orang lain kita akan mendapat komisi dari perusahaan, tapi komisi hanya sebatas orang yang kita ajak. untuk posisi setelahnya kita tidak dapat komisi. istilahnya sistem refferal atau affiliasi.
    Mohon bantuan jawabannya.
    terima kasih.
     

    Admin:
    Bisnis tersebut haram krna ada bentuk muamalah yg melanggar larangan syariat. adanya prosentase keuntungan itu jelas bentuk RIBA. adanya komisi dari tiap member baru yg diajak itu salah satu ciri dari money game dan MLM.

  • hamba ALLAH said:

    apa maksudnya admin pada pertanyaan dari akh said tentng bisnis investasi kalau bisnis tersebut haram krna ada bentuk muamalah yg melanggar larangan syariat. adanya prosentase keuntungan itu jelas bentuk RIBA????
    apakah berinvestasi modal dikatakan muamalah dan kalau keuntunganny jelas hasil bagi keuntungan dari perusahaan yang dimodali sesuai dalam akad nya bagaimana??? dan dalam hal ini kita mengetahui perusahaannya. mohon jawabannya. syukron

  • Admin (author) said:

    Muamalah maknanya hubungan antara manusia dalam urusan dunianya, misalnya dgn bentuk berjual beli, pinjam meminjam, investasi, hibah, hadiah, dll.

    Muamalah investasi, ilustrasinya yaitu ada seorang yg punya uang dia memodali usaha orang yg menjalankan usahanya. Jadi uang itu digunakan untuk suatu usaha yang itu diharapkan bisa menghasilkan. Hasil atau keuntungan itu nantinya dibagi sesuai kesepakatan, misalnya 40% dari hasil utk investor, dan 60% dari hasil utk pengelola usahanya. Jadi, prosentase itu adalah pembagian hasil usahanya/labanya. TAPI ada juga bentuk muamalah investasi yg menggunakan nilai prosentase itu terhadap modalnyanya, jdi tidak tergantung hasil usahanya.

    Agar mudah dipahami kita kasih contoh saja:

    Misal A investasi 1 juta kepada B, B menjalankan usaha, mereka sepakat akan membagi keuntungannya 40% utk A dan 60% utk B. Misalnya B dengan uang 1 juta dibelikannya 1 ekor kambing lalu dipelihara, setelah 1 bulan kambing itu bisa dijualnya 1500000. Maka usaha B menghasilkan laba 500rb. Dari uang 500rb itu diberikan 200rb untuk A dan 300rb untuk B, sesuai kesepakatan prosentase bagi hasilnya tadi. Adapun 1 juta tadi terserah kesepakatan mereka apakah itu akan dikembalikan ke A (berarti muamalah investasinya berakhir) atau akan mereka lanjutkan usaha itu seterusnya. Jika ternyata usaha B rugi, misalnya dia hanya berhasil menjual kambingnya 800rb (padahal sudah berusaha memelihara dan menawarkan kambing itu, tapi trnyata memang hanya laku segitu), maka uang modal A jadi tinggal 800rb (dia rugi 200rb) dan si B pun rugi tenaga dan waktu untuk pemeliharaan tanpa bisa mndapat untung apapun. Insya Allah ini adalah bentuk muamalah investasi yang sesuai syariah.

    Contoh lain: Misal C investasi 1 juta kepada D, D menjalankan usaha, mereka sepakat bahwa setiap bulan D akan membagi kepada C suatu profit sebesar 10% dari modalnya 1 juta itu. Maka setelah 1 bulan usaha berjalan, tidak peduli apakah usaha D menghasilkan laba atau tidak, maka D memberikan kepada C sebesar 10% x 1 juta yaitu rp.100rb, sesuai kesepakatan mereka tadi. Jika usaha D itu laba bersihnya 500rb maka dia tetap memberi 100rb utk C, jika labanya hanya 100rb juga tetap 10% dari modal tadi yaitu 100rb, jika dia rugi 200rb )misalnya trnyata kambing hanya laku 800rb maka D tetap memberi 100rb kpd C, dan uang 1juta tadi tetap harus dikembalikan utuh. Ini adalah bentuk muamalah investasi yg terdapat unsur riba, karena prosentase itu nilainya sudah tertentu berdasar modal yg dipinjamkan dan itu mnjdi tambahan dan manfaat yg dijanjikan kepada investornya tadi tanpa tergantung bgmn hasil jalannya usaha tadi.

    Demikian insya Allah cukup jelas. Wallohu a’lam.

  • Anonymous said:

    mari perangi riba karena penjual. pembeli, dan saksi dikenai laknat oleh Allah

  • nining said:

    Yg mau saya tanyakan bagaimana dg Oriflame, iya juga MLM hanya saja jika di dalam pengembangan jaringan jika tidak dapat mengimbangi jaringan downline kita maka bonusnya kita jadi terpotong untuk yg aktif.
     
    Apakah oriflame juga termasuk d haramkan tapi bagaimna jika oriflame telah mendapatkan predikat HALAL.
     
    apakahkah bisnisnya haram atau tidak ?

  • IKA NOVITA said:

    TOLONG BERIKAN KOMENTAR TENTANG BISNIS ORIFLAME YA? DAN TOLONG DIPELAJARI MERKETINGPLAN ORIFLAME,KRNA SAAT INI BNYAK YG IKUT ORIFLAME,, MOHON JWABANNYA. KRNA SAYA JG SUDAH PUNYA BANYAK JARINGAN ORIFLAME. SKALI LAGI TOLONG DIPELAJARI MARKETING PLAN DARI ORIFLAME. TERIMAKASI

  • santi said:

    apakah bisnis mlm oriflame haram juga? krn banyak sekali yg mengklaim bhw oriflame halal meskipun dia mlm.saya mengikuti bisnis ini tp ketika hrs memanis2kan kata dan menarik downline,ada perasaa  bhw ini tidak benar.

Tulis tanggapan atau komentar!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Sabar, jangan lakukan spam.

Kode yang bisa antum gunakan:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>



corel 2000

corel 2000 serial

cs5 serialz

cs5 serialz free

serial winzip 11

serial winzip 11 key

corel dvd moviefactory 6

corel dvd moviefactory 6 downloads

serial corel draw 11

serial corel draw 11 serials

free corel photoshop download

free corel photoshop download keygen

free winrar download for xp

download winrar for xp for free

winrar 3 download

winrar 3 download freedownload

download winrar free windows 7

download winrar free windows 7 crack

free corel downloads

free corel downloads cracked