Home » Soal Jawab Islam

Tanya tentang qunut pada sholat Subuh

23 December 2008 M | 24 Dhul-Hijjah 1429 H 866 views 0 TanggapanPrint Print Email 

INFOKAN HALAMAN INI:





EMAIL
Bismillah
Assalamu’alaykum wa rohmatullohhi wa barokatuh,
Semoga Alloh ‘Azza wa Jalla senantiasa menjaga dan menyayangi Ustadz Zulqarnain dan keluarga
Ana minta keridhoan ALLOH untuk mencintai anta karena-NYA
Afwan sebelumnya Ustadz,
ana minta pencerahan lagi tentang alfatihah makmum ini
ana pernah mendapat penjelasan tentang
- bacaan imam juga bacaan makmum
- hendaknya kita menyimak bacaan imam sehingga jika bacaan imam salah maka kita bisa mengingatkannya
- jika belum sempat membaca alfatiha tapi bisa mendapatkan rukuknya imam maka sudah dihitung dapat rakaat tersebut
Terkait dengan penjelasan dibawah ini, apakah ada penjelasan lebih terperinci
sehingga kita memilih salah satu pendapat ini?
Tolong bantuan antum yaa ustadz hafidahullohhu ta’ala..
Jazakallohhu khoiron wa baarokallohhu fiykum

Ahmad, Sumsel

Ini tulisan saya tentang qunut subah. Dimuat di Risalah Ilmiyah
An-Nashihah vol. 3

HUKUM QUNUT SHUBUH

Pertanyaan :
Salah satu masalah kontraversial di tengah masyarakat adalah qunut
Shubuh. Sebagian menganggapnya sebagai amalan sunnah, sebagian lain
menganggapnya pekerjaan bid’ah. Jelaskan hukum qunut Shubuh sebenarnya ?

Jawab :
Dalam masalah ibadah, menetapkan suatu amalan bahwa itu adalah
disyariatkan (wajib maupun sunnah) terbatas pada adanya dalil dari
Al-Qur’an maupun As-sunnah yang shohih menjelaskannya. Kalau tidak ada
dalil yang benar maka hal itu tergolong membuat perkara baru dalam
agama (bid’ah), yang terlarang dalam syariat Islam sebagaimana dalam
hadits Aisyah riwayat Bukhary-Muslim :

مَنْ
أَحْدَثَ
فِيْ
أَمْرِنَا
هَذَا مَا
لَيْسَ
مِنْهُ
فَهُوَ رَد ٌّ.
وَ فِيْ
رِوَايَةِ
مُسْلِمٍ :
((مَنْ عَمِلَ
عَمَلاً
لَيْسَ
عَلَيْهِ
أَمُرُنَا
فَهُوَ رَدَّ

“Siapa yang yang mengadakan hal baru dalam perkara kami ini (dalam
Agama-pent.) apa yang sebenarnya bukan dari perkara maka hal itu
adalah tertolak”. Dan dalam riwayat Muslim : “Siapa yang berbuat satu
amalan yang tidak di atas perkara kami maka ia (amalan) adalah tertolak”.

Dan ini hendaknya dijadikan sebagai kaidah pokok oleh setiap muslim
dalam menilai suatu perkara yang disandarkan kepada agama.
Setelah mengetahui hal ini, kami akan berusaha menguraikan
pendapat-pendapat para ulama dalam masalah ini.

Uraian Pendapat Para Ulama
Ada tiga pendapat dikalangan para ulama, tentang disyariatkan atau
tidaknya qunut Shubuh.
Pendapat pertama : Qunut shubuh disunnahkan secara terus-menerus, ini
adalah pendapat Malik, Ibnu Abi Laila, Al-Hasan bin Sholih dan Imam
Syafi’iy.
Pendapat kedua : Qunut shubuh tidak disyariatkan karena qunut itu
sudah mansukh (terhapus hukumnya). Ini pendapat Abu Hanifah, Sufyan
Ats-Tsaury dan lain-lainnya dari ulama Kufah.
Pendapat ketiga : Qunut pada sholat shubuh tidaklah disyariatkan
kecuali pada qunut nazilah maka boleh dilakukan pada sholat shubuh dan
pada sholat-sholat lainnya. Ini adalah pendapat Imam Ahmad, Al-Laits
bin Sa’d, Yahya bin Yahya Al-Laitsy dan ahli fiqh dari para ulama
ahlul hadits.

Dalil Pendapat Pertama
Dalil yang paling kuat yang dipakai oleh para ulama yang menganggap
qunut subuh itu sunnah adalah hadits berikut ini :

مَا زَالَ
رَسُوْلُ
اللهِ صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَآلِهِ
وَسَلَّمَ
يَقْنُتُ
فِيْ صَلاَةِ
الْغَدَاةِ
حَتَّى
فَارَقَ
الدُّنْيَا

“Terus-menerus Rasulullah shollallahu `alaihi wa alihi wa sallam qunut
pada sholat Shubuh sampai beliau meninggalkan dunia”.

Dikeluarkan oleh `Abdurrozzaq dalam Al Mushonnaf 3/110 no.4964, Ahmad
3/162, Ath-Thohawy dalam Syarah Ma’ani Al Atsar 1/244, Ibnu Syahin
dalam Nasikhul Hadits Wamansukhih no.220, Al-Hakim dalam kitab
Al-Arba’in sebagaimana dalam Nashbur Royah 2/132, Al-Baihaqy 2/201 dan
dalam Ash-Shugro 1/273, Al-Baghawy dalam Syarhus Sunnah 3/123-124
no.639, Ad-Daruquthny dalam Sunannya 2/39, Al-Maqdasy dalam
Al-Mukhtaroh 6/129-130 no.2127, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no.689-690
dan dalam Al-`Ilal Al-Mutanahiyah no.753 dan Al-Khatib Al-Baghdady
dalam Mudhih Auwan Al Jama’ wat Tafriq 2/255 dan dalam kitab Al-Qunut
sebagaimana dalam At-Tahqiq 1/463.
Semuanya dari jalan Abu Ja’far Ar-Rozy dari Ar-Robi’ bin Anas dari
Anas bin Malik.

Hadits ini dishohihkan oleh Muhammad bin `Ali Al-Balkhy dan Al-Hakim
sebagaimana dalam Khulashotul Badrul Munir 1/127 dan disetujui pula
oleh Imam Al-Baihaqy. Namun Imam Ibnu Turkumany dalam Al-Jauhar
An-Naqy berkata : “Bagaimana bisa sanadnya menjadi shohih sedang rowi
yang meriwayatkannya dari Ar-Robi’ bin Anas adalah Abu Ja’far `Isa bin
Mahan Ar-Rozy mutakallamun fihi (dikritik)”. Berkata Ibnu Hambal dan
An-Nasa`i : “Laysa bil qowy (bukan orang yang kuat)”. Berkata Abu
Zur’ah : “Yahimu katsiran (Banyak salahnya)”. Berkata Al-Fallas :
“Sayyi`ul hifzh (Jelek hafalannya)”. Dan berkata Ibnu Hibban : “Dia
bercerita dari rowi-rowi yang masyhur hal-hal yang mungkar”.”
Dan Ibnul Qoyyim dalam Zadul Ma’ad jilid I hal.276 setelah menukil
suatu keterangan dari gurunya Ibnu Taimiyah tentang salah satu bentuk
hadits mungkar yang diriwayatkan oleh Abu Ja’far Ar-Rozy, beliau
berkata : “Dan yang dimaksudkan bahwa Abu Ja’far Ar-Rozy adalah orang
yang memiliki hadits-hadits yang mungkar, sama sekali tidak dipakai
berhujjah oleh seorang pun dari para ahli hadits periwayatan haditsnya
yang ia bersendirian dengannya”.
Dan bagi siapa yang membaca keterangan para ulama tentang Abu Ja’far
Ar-Rozy ini, ia akan melihat bahwa kritikan terhadap Abu Ja’far ini
adalah Jarh mufassar (Kritikan yang jelas menerangkan sebab lemahnya
seorang rawi). Maka apa yang disimpulkan oleh Ibnu Hajar dalam
Taqrib-Tahdzib sudah sangat tepat. Beliau berkata : “Shoduqun sayi`ul
hifzh khususon `anil Mughiroh (Jujur tapi jelek hafalannya, terlebih
lagi riwayatnya dari Mughirah).
Maka Abu Ja’far ini lemah haditsnya dan hadits qunut subuh yang ia
riwayatkan ini adalah hadits yang lemah bahkan hadits yang mungkar.

Dihukuminya hadits ini sebagai hadits yang mungkar karena 2 sebab :
Satu : Makna yang ditunjukkan oleh hadits ini bertentangan dengan
hadits shohih yang menunjukkan bahwa Nabi shollallahu `alaihi wa alihi
wa sallam tidak melakukan qunut kecuali qunut nazilah, sebagaimana
dalam hadits Anas bin Malik :

أَنَّ
النَّبِيَّ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَآلِهِ
وَسَلَّمَ
كَانَ لاَ
يَقْنُتُ
إِلاَّ إِذَا
دَعَا
لِقَوْمٍ
أَوْ عَلَى
قَوْمٍ

“Sesungguhnya Nabi shollallahu `alaihi wa alihi wa sallam tidak
melakukan qunut kecuali bila beliau berdo’a untuk (kebaikan) suatu
kaum atau berdo’a (kejelekan atas suatu kaum)”. Dikeluarkan oleh Ibnu
Khuzaimah 1/314 no. 620 dan dan Ibnul Jauzi dalam At-Tahqiq 1/460 dan
dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 639.

Kedua : Adanya perbedaan lafazh dalam riwayat Abu Ja’far Ar-Rozy ini
sehingga menyebabkan adanya perbedaan dalam memetik hukum dari
perbedaan lafazh tersebut dan menunjukkan lemahnya dan tidak tetapnya
ia dalam periwayatan. Kadang ia meriwayatkan dengan lafazh yang
disebut di atas dan kadang meriwayatkan dengan lafazh :

أَنَّ
النَّبِيَّ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ
وَآلِهِ
وَسَلَّمَ
قَنَتَ فٍي
الْفَجْرِ

“Sesungguhnya Nabi shollahu `alahi wa alihi wa sallam qunut pada
shalat Subuh”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf 2/104
no.7003 (cet. Darut Taj) dan disebutkan pula oleh imam Al Maqdasy
dalam Al Mukhtarah 6/129.

Kemudian sebagian para `ulama syafi’iyah menyebutkan bahwa hadits ini
mempunyai beberapa jalan-jalan lain yang menguatkannya, maka mari kita
melihat jalan-jalan tersebut :

Jalan Pertama : Dari jalan Al-Hasan Al-Bashry dari Anas bin Malik,
beliau berkata :

قَنَتَ
رَسُوْلُ
اللهِ صَلَّى
الله
ُعَلَيْهِ
وَآلِهِ
وَسَلَّمَ
وَأَبُوْ
بَكْرٍ
وَعُمْرَ
وَعُثْمَانَ
وَأَحْسِبُه&#1\
615;
وَرَابِعٌ
حَتَّى
فَارَقْتُهُ&#1\
605;ْ

“Rasulullah Shollallahu `alaihi wa alihi wa Sallam, Abu Bakar, `Umar
dan `Utsman, dan saya (rawi) menyangka “dan keempat” sampai saya
berpisah denga mereka”.

Hadits ini diriwayatkan dari Al Hasan oleh dua orang rawi :
Pertama : `Amru bin `Ubaid. Dikeluarkan oleh Ath-Thohawy dalam Syarah
Ma’ani Al Atsar 1/243, Ad-Daraquthny 2/40, Al Baihaqy 2/202, Al Khatib
dalam Al Qunut dan dari jalannya Ibnul Jauzy meriwayatkannya dalam
At-Tahqiq no.693 dan Adz-Dzahaby dalam Tadzkiroh Al Huffazh 2/494. Dan
`Amru bin `Ubaid ini adalah gembong kelompok sesat Mu’tazilah dan
dalam periwayatan hadits ia dianggap sebagai rawi yang matrukul hadits
(ditinggalkan haditsnya).
Kedua : Isma’il bin Muslim Al Makky, dikeluarkan oleh Ad-Daraquthny
dan Al Baihaqy. Dan Isma’il ini dianggap matrukul hadits oleh banyak
orang imam. Baca : Tahdzibut Tahdzib.

Catatan :
Berkata Al Hasan bin Sufyan dalam Musnadnya : Menceritakan kepada kami
Ja’far bin Mihron, (ia berkata) menceritakan kepada kami `Abdul Warits
bin Sa’id, (ia berkata) menceritakan kepada kami Auf dari Al Hasan
dari Anas beliau berkata :

صَلَّيْتُ
مَعَ
رَسُوْلِ
اللهِ صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَآلِهِ
وَسَلَّمَ
فَلَمْ
يَزَلْ
يَقْنُتُ
فِيْ صَلاَةِ
الْغَدَاةِ
حَتَّى
فَارَقْتُهُ

“Saya sholat bersama Rasulullah Shollallahu `alaihi wa alihi wa Sallam
maka beliau terus-menerus qunut pada sholat Subuh sampai saya berpisah
dengan beliau”.

Riwayat ini merupakan kekeliruan dari Ja’far bin Mihron sebagaimana
yang dikatakan oleh imam Adz-Dzahaby dalam Mizanul I’tidal 1/418.
Karena `Abdul Warits tidak meriwayatkan dari Auf tapi dari `Amru bin
`Ubeid sebagaiman dalam riwayat Abu `Umar Al Haudhy dan Abu Ma’mar –
dan beliau ini adalah orang yang paling kuat riwayatnya dari `Abdul
Warits-.

Jalan kedua : Dari jalan Khalid bin Da’laj dari Qotadah dari Anas bin
Malik :

صَلَّيْتُ
خَلْفَ
رَسُوْلِ
اللهِ صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَآلِهِ
وَسَلَّمَ
وَخَلْفَ
عُمَرَ
فَقَنَتَ
وَخَلْفَ
عُثْمَانَ
فَقَنَتَ

“Saya sholat di belakang Rasulullah shollallahu `alaihi wa alihi wa
sallam lalu beliau qunut, dan dibelakang `umar lalu beliau qunut dan
di belakang `Utsman lalu beliau qunut”.

Dikeluarkan oleh Al Baihaqy 2/202 dan Ibnu Syahin dalam Nasikhul
Hadits wa Mansukhih no.219. Hadits di atas disebutkan oleh Al Baihaqy
sebagai pendukung untuk hadits Abu Ja’far Ar-Rozy tapi Ibnu Turkumany
dalam Al Jauhar An Naqy menyalahkan hal tersebut, beliau berkata :
“Butuh dilihat keadaan Khalid apakah bisa dipakai sebagai syahid
(pendukung) atau tidak, karena Ibnu Hambal, Ibnu Ma’in dan
Ad-Daruquthny melemahkannya dan Ibnu Ma’in berkata di (kesempatan
lain) : laisa bi syay`in (tidak dianggap) dan An-Nasa`i berkata :
laisa bi tsiqoh (bukan tsiqoh). Dan tidak seorangpun dari pengarang
Kutubus Sittah yang mengeluarkan haditsnya. Dan dalam Al-Mizan, Ad
Daraquthny mengkategorikannya dalam rowi-rowi yang matruk.
Kemudian yang aneh, di dalam hadits Anas yang lalu, perkataannya
“Terus-menerus beliau qunut pada sholat Subuh hingga beliau
meninggalkan dunia”, itu tidak terdapat dalam hadits Khalid. Yang ada
hanyalah “beliau (nabi) `alaihis Salam qunut”, dan ini adalah perkara
yang ma’ruf (dikenal). Dan yang aneh hanyalah terus-menerus
melakukannya sampai meninggal dunia. Maka di atas anggapan dia cocok
sebagai pendukung, bagaimana haditsnya bisa dijadikan sebagai syahid
(pendukung)”.

Jalan ketiga : Dari jalan Ahmad bin Muhammad dari Dinar bin `Abdillah
dari Anas bin Malik :

مَا زَالَ
رَسُوْلُ
اللهِ صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَآلِهِ
وَسَلَّمَ
يَقْنُتُ
فِيْ صَلاَةِ
الْصُبْحِ
حَتَّى مَاتَ

“Terus-menerus Rasulullah Shollallahu `alaihi wa alihi wa Sallam qunut
pada sholat Subuh sampai beliau meninggal”.

Dikeluarkan oleh Al Khatib dalam Al Qunut dan dari jalannya, Ibnul
Jauzy dalam At-Tahqiq no. 695.
Ahmad bin Muhammad yang diberi gelar dengan nama Ghulam Khalil adalah
salah seorang pemalsu hadits yang terkenal. Dan Dinar bin `Abdillah,
kata Ibnu `Ady : “Mungkarul hadits (Mungkar haditsnya)”. Dan berkata
Ibnu Hibban : “Ia meriwayatkan dari Anas bin Malik perkara-perkara
palsu, tidak halal dia disebut di dalam kitab kecuali untuk mencelanya”.

Kesimpulan pendapat pertama:
Jelaslah dari uraian diatas bahwa seluruh dalil-dalil yang dipakai
oleh pendapat pertama adalah hadits yang lemah dan tidak bisa dikuatkan.
Kemudian anggaplah dalil mereka itu shohih bisa dipakai berhujjah,
juga tidak bisa dijadikan dalil akan disunnahkannya qunut subuh secara
terus-menerus, sebab qunut itu secara bahasa mempunyai banyak
pengertian. Ada lebih dari 10 makna sebagaimana yang dinukil oleh
Al-Hafidh Ibnu Hajar dari Al-Iraqi dan Ibnul Arabi.
1) Doa
2) Khusyu’
3) Ibadah
4) Taat
5) Menjalankan ketaatan.
6) Penetapan ibadah kepada Allah
7) Diam
8) Shalat
9) Berdiri
10) Lamanya berdiri
11) Terus menerus dalam ketaatan

Dan ada makna-makna yang lain yang dapat dilihat dalam Tafsir
Al-Qurthubi 2/1022, Mufradat Al-Qur’an karya Al-Ashbahany hal. 428 dan
lain-lain.
Maka jelaslah lemahnya dalil orang yang menganggap qunut subuh
terus-menerus itu sunnah.

Dalil Pendapat Kedua
Mereka berdalilkan dengan hadits Abu Hurairah riwayat Bukhary-Muslim :

كَانَ
رَسُوْلُ
اللهِ صَلَّى
الهُ
عَلَيْهِ
وَآلِهِ
وَسَلَّمَ
يَقُوْلُ
حِيْنَ
يَفْرَغُ
مِنْ صَلاَةِ
الفَجْرِ
مِنَ
الْقِرَاءَة&#1\
616;
وَيُكَبِّرُ
وَيَرْفَعُ
رَأْسَهُ
سَمِعَ اللهُ
لِمَنْ
حَمِدَهُ
رَبَّنَا
وَلَكَ
الْحَمْدُ
ثُمَّ
يَقُوْلُ
وَهُوَ
قَائِمٌ
اَللَّهُمَّ
أَنْجِ
اَلْوَلِيْد&#1\
614; بْنَ
الْوَلِيْدِ
وَسَلَمَةَ
بْنَ هِشَامٍ
وَعَيَّاشَ
بْنَ أَبِيْ
رَبِيْعَةَ
وَالْمُسْتَ&#1\
590;ْعَفِيْنَ
مِنَ
الْمُُؤْمِن&#1\
616;يْنَ
اَللَّهُمَّ
اشْدُدْ
وَطْأَتَكَ
عَلَى مُضَرَ
وَاجْعَلْهَ&#1\
575; عَلَيْهِمْ
كَسِنِيْ
يُوْسُفَ
اَللَّهُمَّ
الْعَنْ
لِحْيَانَ
وَرِعْلاً
وَذَكْوَانَ
وَعُصَيَّةَ
عَصَتِ اللهَ
وَرَسُوْلَه&#1\
615; ثُمَّ
بَلَغَنَا
أَنَهُ
تَرَكَ
ذَلِكَ
لَمَّا
أَنْزَلَ : ((
لَيْسَ لَكَ
مِنَ
الأَمْرِ
شَيْءٌ أَوْ
يَتُوْبَ
عَلَيْهِمْ
أَوْ
يُعَذِّبَهُ&#1\
605;ْ
فَإِنَّهُمْ
ظَالِمُوْنَ ))

“Adalah Rasulullah shollallahu `alaihi wa alihi wa sallam ketika
selesai membaca (surat dari rakaat kedua) di shalat Fajr dan kemudian
bertakbir dan mengangkat kepalanya (I’tidal) berkata : “Sami’allahu
liman hamidah rabbana walakal hamdu, lalu beliau berdoa dalaam keadaan
berdiri. “Ya Allah selamatkanlah Al-Walid bin Al-Walid, Salamah bin
Hisyam, `Ayyasy bin Abi Rabi’ah dan orang-orang yang lemah dari kaum
mu`minin. Ya Allah keraskanlah pijakan-Mu (adzab-Mu) atas kabilah
Mudhar dan jadianlah atas mereka tahun-tahun (kelaparan) seperti
tahun-tahun (kelaparan yang pernah terjadi pada masa) Nabi Yusuf.
Wahai Allah, laknatlah kabilah Lihyan, Ri’lu, Dzakwan dan `Ashiyah
yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian sampai kepada
kami bahwa beliau meningalkannya tatkala telah turun ayat : “Tak ada
sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima
taubat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu
orang-orang yang zalim”. (HSR.Bukhary-Muslim)

Berdalilkan dengan hadits ini menganggap mansukh-nya qunut adalah
pendalilan yang lemah karena dua hal :
Pertama : ayat tersebut tidaklah menunjukkan mansukh-nya qunut
sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Qurthuby dalam tafsirnya,
sebab ayat tersebut hanyalah menunjukkan peringatan dari Allah bahwa
segala perkara itu kembali kepada-Nya. Dialah yang menentukannya dan
hanya Dialah yang mengetahui perkara yang ghoib.

Kedua : Diriwayatkan oleh Bukhary – Muslim dari Abu Hurairah, beliau
berkata :

وَاللهِ
لَأَقْرَبَن&#1\
617;َ بِكُمْ
صَلاَةَ
رَسُوْلِ
اللهِ صَلَّى
الهُi
عَلَيْهِ
وَآلِهِ
وَسَلَّمَ
فَكَانَ
أَبُوْ
هُرَيْرَةَ
يَقْنُتُ فِي
الظُّهْرِ
وَالْعِشَاء&#1\
616; الْآخِرَةِ
وَصَلاَةِ
الْصُبْحِ
وَيَدْعُوْ
لِلْمُؤْمِن&#1\
616;يْنَ
وَيَلْعَنُ
الْكُفَّارَ.

Dari Abi Hurairah radliyallahu `anhu beliau berkata : “Demi Allah,
sungguh saya akan mendekatkan untuk kalian cara shalat Rasulullah
shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam. Maka Abu Hurairah melakukan
qunut pada shalat Dhuhur, Isya’ dan Shubuh. Beliau mendoakan kebaikan
untuk kaum mukminin dan memintakan laknat untuk orang-orang kafir”.

Ini menunjukkan bahwa qunut nazilah belum mansukh. Andaikata qunut
nazilah telah mansukh tentunya Abu Hurairah tidak akan mencontohkan
cara sholat Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam dengan qunut
nazilah.

Dalil Pendapat Ketiga

Satu : Hadits Sa’ad bin Thoriq bin Asyam Al-Asyja’i

قُلْتُ
لأَبِيْ : “يَا
أَبَتِ
إِنَّكَ
صَلَّيْتَ
خَلْفَ
رَسُوْلُ
الله صلى الله
عليه وآله
وسلم
وَأَبِيْ
بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيَ
رَضِيَ الله
عَنْهُمْ
هَهُنَا
وَبِالْكُوْ&#1\
601;َةِ خَمْسَ
سِنِيْنَ
فَكَانُوْا
بَقْنُتُوْن&#1\
614; فيِ
الفَجْرِ”
فَقَالَ :
“أَيْ بَنِيْ
مُحْدَثٌ”.

“Saya bertanya kepada ayahku : “Wahai ayahku, engkau sholat di
belakang Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam dan di
belakang Abu Bakar, `Umar, `Utsman dan `Ali radhiyallahu `anhum di
sini dan di Kufah selama 5 tahun, apakah mereka melakukan qunut pada
sholat subuh ?”. Maka dia menjawab : “Wahai anakku hal tersebut (qunut
subuh) adalah perkara baru (bid’ah)”. Dikeluarkan oleh Tirmidzy no.
402, An-Nasa`i no.1080 dan dalam Al-Kubro no.667, Ibnu Majah no.1242,
Ahmad 3/472 dan 6/394, Ath-Thoyalisy no.1328, Ibnu Abi Syaibah dalam
Al Mushonnaf 2/101 no.6961, Ath-Thohawy 1/249, Ath-Thobarany
8/no.8177-8179, Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihsan no.1989,
Baihaqy 2/213, Al-Maqdasy dalam Al-Mukhtarah 8/97-98, Ibnul Jauzy
dalam At-Tahqiq no.677-678 dan Al-Mizzy dalam Tahdzibul Kamal dan
dishohihkan oleh syeikh Al-Albany dalam Irwa`ul Gholil no.435 dan
syeikh Muqbil dalam Ash-Shohih Al-Musnad mimma laisa fi Ash-Shohihain.

Dua : Hadits Ibnu `Umar

عَنْ أَبِيْ
مِجْلَزِ
قَالَ :
“صَلَّيْتُ
مَعَ اِبْنِ
عُمَرَ
صَلاَةَ
الصُّبْحِ
فَلَمْ
يَقْنُتْ”.
فَقُلْتُ :
“آلكِبَرُ
يَمْنَعُكَ”,
قَالَ : “مَا
أَحْفَظُهُ
عَنْ أَحَدٍ
مِنْ
أَصْحَابِيْ”.
” Dari Abu Mijlaz beliau berkata : saya sholat bersama Ibnu `Umar
sholat shubuh lalu beliau tidak qunut. Maka saya berkata : apakah
lanjut usia yang menahanmu (tidak melakukannya). Beliau berkata : saya
tidak menghafal hal tersebut dari para shahabatku”. Dikeluarkan oleh
Ath-Thohawy 1\246, Al-Baihaqy 2\213 dan Ath-Thabarany sebagaimana
dalam Majma’ Az-Zawa’id 2\137 dan Al-Haitsamy berkata :”rawi-rawinya
tsiqoh”.

Ketiga : tidak ada dalil yang shohih menunjukkan disyari’atkannya
mengkhususkan qunut pada sholat shubuh secara terus-menerus.

Keempat : qunut shubuh secara terus-menerus tidak dikenal dikalangan
para shahabat sebagaimana dikatakan oleh Ibnu `Umar diatas, bahkan
syaikul islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al-Fatawa berkata : “dan
demikian pula selain Ibnu `Umar dari para shahabat, mereka menghitung
hal tersebut dari perkara-perkara baru yang bid’ah”.

Kelima : nukilan-nukilan orang-orang yang berpendapat disyari’atkannya
qunut shubuh dari beberapa orang shahabat bahwa mereka melakukan
qunut, nukilan-nukilan tersebut terbagi dua :
1) Ada yang shohih tapi tidak ada pendalilan dari nukilan-nukilan
tersebut.
2) Sangat jelas menunjukkan mereka melakukan qunut shubuh tapi nukilan
tersebut adalah lemah tidak bisa dipakai berhujjah.

Keenam: setelah mengetahui apa yang disebutkan diatas maka sangatlah
mustahil mengatakan bahwa disyari’atkannya qunut shubuh secara
terus-menerus dengan membaca do’a qunut “Allahummahdinaa fi man
hadait…….sampai akhir do’a kemudian diaminkan oleh para ma’mum,
andaikan hal tersebut dilakukan secara terus menerus tentunya akan
dinukil oleh para shahabat dengan nukilan yang pasti dan sangat banyak
sebagaimana halnya masalah sholat karena ini adalah ibadah yang kalau
dilakukan secara terus menerus maka akan dinukil oleh banyak para
shahabat. Tapi kenyataannya hanya dinukil dalam hadits yang lemah.
Demikian keterangan Imam Ibnul qoyyim Al-Jauziyah dalam Zadul Ma’ad.

Kesimpulan

Jelaslah dari uraian di atas lemahnya dua pendapat pertama dan kuatnya
dalil pendapat ketiga sehinga memberikan kesimpulan pasti bahwa qunut
shubuh secara terus-menerus selain qunut nazilah adalah bid’ah tidak
pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para shahabatnya. Wallahu a’lam.

Silahkan lihat permasalahan ini dalam Tafsir Al Qurthuby 4/200-201, Al
Mughny 2/575-576, Al-Inshof 2/173, Syarh Ma’any Al-Atsar 1/241-254,
Al-Ifshoh 1/323, Al-Majmu’ 3/483-485, Hasyiyah Ar-Raud Al Murbi’ :
2/197-198, Nailul Author 2/155-158 (Cet. Darul Kalim Ath Thoyyib),
Majmu’ Al Fatawa 22/104-111 dan Zadul Ma’ad 1/271-285.

http://groups.yahoo.com/group/nashihah/message/59

Artikel Lain Kategori Soal Jawab Islam

Nilai artikel ini:

Tulis tanggapan atau komentar!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Sabar, jangan lakukan spam.

Kode yang bisa antum gunakan:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>